Kamis, 27 Juni 2013

Positivisme Auguste Comte



Oleh : Diana & Nur Khalimatus Sadiyah

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Semenjak abad ke 17 rasionalisme Rene Descartes mencapai posisi penting bagi ilustrasi keilmuan manusia, pemikirannya bahwa akal adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Lalu dilanjutkan dengan empirisme yang mencapai puncak pada masa David Hume yang mana pengetahuan hanya bersumber dari pengalaman dan terbatas pada dunia cerapan indera saja. Selanjutnya pada abad ke 19 muncullah positivisme yang diperkenalkan oleh Auguste Comte yang mana ia sebagai kelanjutan dari empirisme tapi dalam bentuk yang lain yang lebih objektif.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana riwayat hidup seorang Auguste Comte?
2.      Apa pengertian positivisme?
3.      Bagaimana pemikiran positivisme dari Auguste Comte?
4.      Jelaskan konsep sentral dan komparasidari ajaran positivisme?
5.      Jelaskan kritik-kritik dari positivisme?
C.    Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk lebih meningkatkan lagi pemahaman kita mengenai filsafat barat pada umumnya, dan filsafat positivisme pada khususnya. Pada filsafat ini nanti akan kami bahas mengenai riwayat hidup dari Auguste Comte, sejarah dari positivisme, pemikiran positivisme dari Auguste Comte, konsep sentral serta komparasi dari ajaran lain dan kritik-kritik dari pemikiran. Selain itu juga akan kami bahas berbagai sub bab/pokok yang berkaitan dengan positivisme. Sehingga diharapkan setelah membaca makalah yang kami susun ini, kita semua bisa mengetahui tentang positivisme itu sendiri dan dapat mengambil hal positif untuk dipublikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN
1.      Biografi Auguste Comte
Filsafat positivisme diantarkan oleh Auguste Comte pada abad ke 19. Auguste Comte memiliki nama yang panjang yaitu Isidore Marie Auguste Francois Xavier Comte. Beliau dilahirkan di Montpellier pada tanggal 19 Januari 1798 dari keluarga pegawai negeri yang beragama katolik dan meninggal di Paris pada tanggal 5 September 1857 pada umur 59 tahun. Karyanya yang pokok adalah Cours de philosophie positive, atau “kursus tentang filsafat positif” tahun 1830-1842 yang diterbitkan dalam 6 jilid.[1] dan Discours L’esprit positive tahun 1844.
Comte kecil tinggal di sebuah kota kecil bagian barat daya dari negara Perancis. Setelah bersekolah disana, ia melanjutkan pendidikannya di École Polytechnique di Paris (1814), yang kemudian menghantarkannya menjadi seorang matematikawan yang brilian. Comte memulai karir profesionalnya dengan memberi les dalam bidang matematika. Meskipun ia telah memperoleh pendidikan dalam bidang matematika, namun perhatian yang sebenarnya ialah masalah-masalah kemanusiaan dan sosial. Perhatiannya tersebut kemudian berkembang setelah ia bertemu dengan Henri de Saint-Simon, seorang ahli teori sosial yang tertarik pada reformasi utopis dan pendiri awal sosialisme Eropa, yang kemudian  mempekerjakan Comte sebagai sekretarisnya.
Dengan Simon, Comte menjalin kerjasama yang erat dalam pengembangan karya awalnya. Namun, setelah tujuh tahun pasangan ini akhirnya pecah karena perdebatan mengenai kepengarangan karya bersama, dan Comte pun meninggalkan pembimbingnya tersebut.Namun, walaupun Comte tidak lagi bekerjasama dengan Simon, pengaruhnya tetap saja melekat sepanjang hidup Comte.
Pasca meninggalkan Simon, Comte selanjutnya meneliti tentang filosofi Positivisme. Rencananya ini kemudian dipublikasikan dengan nama“Plan de travaux scientifiques nécessaires pour réorganiser la société”pada tahun 1822 (Rencana studi ilmiah untuk pengaturan kembali masyarakat). Tetapi ia gagal mendapatkan posisi akademis sehingga menghambat penelitiannya.
Sementara Comte sedang mengembangkan filsafat positifnya yang komprehensif, ia menikah dengan seorang bekas pelacur bernama Caroline Massin. Comte dikenal arogan, kejam dan mudah marah sehingga pada tahun 1826 dia dibawa ke sebuah rumah sakit jiwa, tetapi ia kabur sebelum sembuh. Kemudian setelah kondisinya distabilkan oleh Massin, ia mengerjakan kembali apa yang dulu direncanakannya. Namun sayangnya, pada tahun 1842 ia bercerai dengan Massin. Saat-saat di antara pengerjaan kembali rencananya sampai pada perceraiannya, ia mempublikasikan bukunya yang berjudul “Course of Positive Philosophy”.
Pada tahun 1844, Comte menjalin kasih dengan Clothilde de Vaux, seorang wanita yang sedang di tinggal suaminya.Perasaan Comte terhadap Clothilde cukup besar, namun sayangnya hal itu tak berlangsung lama karena Clothilde mengidap TBC dan akhirnya meninggal. Hal ini mengakibatkan Comte cukup terguncang, sampai bersumpah bahwa ia akan membaktikan hidupnya untuk mengenang “bidadari” nya tersebut.
Sifat tulisan Comte umumnya berubah secara mencolok pasca menjalin hubungan dengan Clothilde. Dalam karya keduanya “System of Positive Politics”, ia menggagas bahwa kekuatan yang sebenarnya mendorong orang dalam dalam kehidupannya adalah perasaan, bukan pertumbuhan intelegensi manusia yang mantap. Dia mengusulkan suatu reorganisasi masyarakat, dengan sejumlah tata cara yang dirancang untuk membangkitkan cinta murni tanpa egois demi kebesaran manusia. Tujuannya ialah mengembangkan suatu agama yang baru yaitu agama Humanitas. Dan pada gilirannya ia menyatakan diri sebagai pendiri agama universal, Imam Agung Humanitas.[6]
Meskipun egois dan egosentris, Auguste Comte mengabdikan dirinya untuk kemajuan masyarakat sampai akhir hayatnya.Ia meninggal karena kanker perut di Paris pada tanggal 5 September 1857.
2.      Positivisme
Semenjak abad ke 17 rasionalisme Rene Descartes mencapai posisi penting bagi ilustrasi keilmuan manusia, pemikirannya bahwa akal adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Lalu dilanjutkan dengan empirisme yang mencapai puncak pada masa David Hume yang mana pengetahuan hanya bersumber dari pengalaman dan terbatas pada dunia cerapan indera saja. Selanjutnya pada abad ke 19 muncullah positivisme yang diperkenalkan oleh Auguste Comte.
Pandangan ini bukan barang yang sama sekali baru karena sebelum Kant sudah berkembang empirisme yang dalam beberapa segi bersesuaian dengan positivisme.[2] Kesamaan positivisme dengan empirisme adalah bahwa keduanya mengutamakan pengalaman. Perbedaannya terletak pada; bahwa positivisme hanya membatasi diri pada pengalaman-pengalaman obyektif, tetapi empirisme juga menerima pengalaman-pengalaman batiniah atau pengalaman-pengalaman yang subyektif.[3]
Untuk Positivisme sendiri berasal dari bahasa Inggris: positivism; dari bahasa latinpositivus,ponere yang berarti meletakkan. Positivisme sekarang merupakan suatu istilah umum untuk posisi filosofis yang menekankan aspek faktual pengetahuan, khususnya pengetahuan ilmiah. Dan umumnya positivisme berupaya menjabarkan pernyataan-pernyataan faktualpada suatu landasan pencerapan (sensasi). Atau dengan kata lain, positivisme merupakan suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu-ilmu alam (empiris) sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak nilai kognitif dari studi filosofis atau metafisik. [4]
Filsafat positivisme diturunkan dari kata “positif”. Filsafat ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual, yang positif. Segala uraian dan persoalan di luar apa yang ada sebagai fakta atau kenyataan dikesampingkan. Artinya yang dijadikan sumber pengetahuan adalah hal-hal atau gejala yang tampak. Segala fakta yang menyajikan diri kepada kita sebagai penampakan atau gejala, kita terima seperti apa adanya. Setelah itu kita berusaha untuk mengatur fakta-fakta tadi menurut hukum tertentu, akhirnya dengan berpangkal kepada hukum-hukum yang telah ditemukan tadi kita mencoba melihat ke masa depan, apa yang akan tampak sebagai gejala dan menyesuaikandengan dirinya.
Pada dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri. Ia menyempurnakan empirisme dan rasionalisme. Dengan kata lain, ia menyempurnakan metode ilmiah (scientific method) dengan memasukkan perlunya eksperimen dan ukuran-ukuran. Positivisme mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empiris yang terukur. “Terukur” inilah sumbangan penting positivisme. Misalnya, hal panas. Positivisme mengatakan bahwa air mendidih adalah 100 derajat celcius, besi mendidih 1000 derajat celcius, dan yang lainnya misalnya tentang ukuran meter, ton, dan seterusnya. Ukuran - ukuran tadi adalah operasional, kuantitatif, tidak memungkinkan perbedaan pendapat.
Intinya, positivisme tidak hanya menggunakan metode rasionalisme saja atau empirisme saja, tetapi menggabungkan keduanya dengan cara melihat gejala yang fakta dan nampak lalu merasionalkannya dengan mencoba meramalkan gejala yang akan terjadi setelahnya. Contohnya hari ini langit mendung, itu adalah bagian dari empirisme, lalu diperkirakan sebentar lagi akan turun hujan, itu merupakan bagian dari rasionalisme. Jadi ide positivisme di sini adalah berpatokan pada gejala yang telah nampak.
3.      Pemikiran Auguste Comte
3.1  Hukum tiga tahap
Menurut Comte, perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam 3 tahap atau 3 zaman, yaitu zaman teologis, zaman metafisis, dan zaman ilmiah atau zaman positif.
3.1.1        Tahap Teologis
Pada zaman atau tahap teologis orang mengarahkan rohnya kepada hakekat batiniah segala sesuatu. Jadi orang masih percaya kepada kemungkinan adanya pengetahuan yang mutlak. Oleh karena itu orang berusaha memilikinya. Orang yakin, bahwa di belakang tiap kejadian tersirat suatu pernyataan kehendak yang secara khusus. Pada tahap ini terdapat 3 tahap lagi, yaitu: a) tahap yang paling bersahaja atau primitif, ketika orang menganggap, bahwa segala benda berjiwa (animisme); b) tahap ketika orang menurunkan kelompok-kelompok hal-hal tertentu seluruhnya masing-masing diturunkannya dari suatu kekuatan adikodrati yang melatarbelakanginya, sedemikian rupa, sehingga tiap kawasan gejala-gejala memiliki dewa-dewanya sendiri (politeisme); c) tahap yang tertinggi, ketika orang mengganti dewa yang bermacam-macam itu dengan satu tokoh tertinggi, yaitu dalam monoteisme.
3.1.2        Tahap Metafisik
Zaman yang kedua, yaitu zaman metafisika, sebenarnya hanya mewujudkan suatu perubahan saja dari zaman teologis. Sebab kekuatan-kekuatan yang adikodrati atau dewa-dewa hanya diganti dengan kekuatan-kekuatan yang abstrak, dengan pengertian-pengertian atau dengan pengada-pengada yang lahiriah yang kemudian dipersatukan dengan sesuatu yang bersifat umum yang disebut alam dan yang dipandang sebagai asal segala penampakan atau gejala yang khusus.
3.1.3        Tahap Positif
Zaman positif adalah zaman ketika orang tahu bahwa tiada gunanya untuk berusaha mencapai pengenalan atau pengetahuan yang mutlak, baik pengenalan teologis, maupun pengenalan metafisis. Ia tidak lagi mau melacak hakekat yang sejati dari segala sesuatu yang berada di belakang segala sesuatu. Sekarang orang berusaha menemukan hukum-hukum kesamaan dan urutan yang terdapat pada fakta-fakta yang telah dikenal atau disajikan padanya, yaitu dengan pengamatan dan dengan memakai akalnya. Pada zaman ini pengertian “menerangkan” berarti: fakta-fakta yang khusus dihubungkan dengan dengan suatu fakta yang umum. Tujuan tertinggi dari zaman ini akan tercapai bilamana segala gejala telah dapat disusun dan diatur di bawah satu fakta yang umum saja.
Hukum 3 zaman atau 3 tahap di atas bukan hanya berlaku bagi perkembangan rohani seluruh umat manusia, tetapi juga berlaku bagi tiap orang sendiri-sendiri. Seperti contoh: sebagai kanak-kanak orang adalah seorang teolog, sebagai pemuda ia menjadi seorang metafisikus dan sebagai orang dewasa ia adalah seorang fisikus.
Contoh praktisnya adalah dalam pelajaran matematika sebuah rumus bagi anak-anak hanya dijadikan sebuah teori dan tidak ada usaha untuk mengkritisinya atau mempraktekannya. Ketika remaja dia sudah mulai mengkritisi dan mempraktekannya dan mempunyai gambaran-gambaran atau abstraksi metafisik tentang rumus tersebut. Dan ketika sudah dewasa dia telah menemukan hasil dari nilai praktis rumus tersebut.
3.2 Prinsip-prinsip Keteraturan Sosial
            Sejalan dengan perspektif organiknya, Comte sangat menerima saling ketergantungan yang harmonis antara bagian-bagian masyarakat, dan sumbangan terhadap bertahannya stabilitas sosial. Meskipun keteraturan sosial dapat terancam oleh anarki sosial, moral, dan intelektual, selalu akan diperkuat kembali. Analisis Comte mengenai keteraturan sosial dapat dibagi dalam dua fase.Pertama, usaha untuk menjelaskan keteraturan sosial secara empiris dengan menggunakan metode positif.Kedua, usaha untuk meningkatkan keteraturan sosial sebagai suatu cita-cita yang normatif dengan menggunakan metode-metode yang bukan tidak sesuai dengan positivisme, tetapi yang menyangkut perasaan juga intelek.[5]
Menurut comte, individu dipengaruhi dan dibentuk oleh lingkungan sosial, sehingga satuan masyarakat asasi adalah bukan individu-individu, melainkan keluarga. Dalam keluargalah individu diperkenalkan kepada masyarakat.
Keteraturan sosial juga bergantung pada pembagian pekerjaan dan kerja sama ekonomi. Individu menjalankan kegiatan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan individunya. Akan tetapi begitu pembagian pekerjaan muncul, partisipasi individu dalam kegiatan ekonomi menghasilkan kerja sama, kesadaran akan saling ketergantungan dan muncul ikatan-ikatan sosial baru. Pembagian pekerjaan meningkat bersama industrialisasi, dan bertambahnya spesialisasi yang berhubungan dengan itu mendorong individualisme, sekaligus meningkatkan derajat saling ketergantungan.Jadi, keteraturan yang stabil dalam suatu masyarakat kompleks, berbeda dengan masyarakat primitif yang berstruktur longgar dan berdiri sendiri, berstandar pada saling ketergantungan itu yang perkembangannya dibantu oleh pembagian pekerjaan yang sangat tinggi.
3.2  Agama Humanitas
Wawasan Comte tentang konsekuensi-konsekuensi agama yang menguntungkan dan ramalannya terhadap tahap positif postreligius dalam evolusi manusia menghadapkan dia pada masalah rumit. Melirik fakta sejarah, ia tidak bisa menafikan peran penting agama terhadap keteraturan sosial yang paling utama. Akan tetapi, kalau dilihat dalam perspektif ilmiah (positif), agama didasarkan pada kekeliruan intelektual asasi yang mula-mula sudah berkembang pada saat-saat awal perkembangan intelektual manusia. Lalu, pertanyaan rumit yang dihadapi Comte adalah bagaimana keteraturan sosial itu  dapat dipertahankan dalam masyarakat positif pada masa-masa yang akan datang, Dengan satu dasar tradisi pokok mengenai keteraturan sosial yang digali oleh positivisme.
Mengatasi masalah tersebut, Comte kemudian mengemukakan gagasan untuk mendirikan satu agama baru yakni agama Humanitas, dan mengangkat dirinya sebagai imam agung agama tersebut.Ini aspek kedua dari perhatian Comte mengenai keteraturan sosial.Aspek pertama meliputi suatu analisis objektif mengenai sumber-sumber stabilitas dalam masyarakat, sedangkan aspek kedua ini meliputi usaha meningkatkan keteraturan sosial dengan agama Humanitas sebagai cita-cita normatifnya.
Gagasan Comte mengenai satu masyarakat positive di bawah bimbingan moral agama Humanitas makin lama makin terperinci.Misalnya, dia menyusun satu kelender baru dengan hari-hari tertentu untuk menghormati ilmuan-ilmuan besar dan lainnya, yang sudah bekerja demi kemanusiaan dan kemajuan manusia. Akan ada beberapa ritus doa yang disusun untuk menyalurkan hasrat-hasrat individu dan memasukkannya ke dalam “the great being of humanity”. Selain itu, ada juga ritual dimana Comte sebagai imam agung berlutut didepan altarnya sambil memegang seikat rambut kepala Cothilde de Vaux.Ia juga bahkan mengusulkan agar kuburan de Vaux dijadikan sebagai tempat ziarah.[6] Dalam agama baru ini,  moralitas tertinggi adalah cinta dan pengabdian kepada kemanusiaan. Allah pada abad pertengahan digantikan dengan “Le Grand Etre” (Ada Agung), yakni Kemanusiaan.[7]
3.3  Klasifikasi Ilmu Pengetahuan
Comte membagi ilmu pengetahuan berdasarkan gejala-gejala dan penampakan-penampakan, yang mana ilmu pengetahuan harus disesuaikan oleh itu semua. Segala gejala yang dapat diamati hanya akan dapat dikelompokan dalam beberapa pengertian saja. Pengelompokkan itu dapat dilakukan sedemikian rupa sehingga penelitian tiap kelompok menjadi dasar bagi penelitian kelompok berikutnya.Sehingga terjadilah dikotomi ilmu pengetahuan yang mana asal mualanya adalah satu. Lalu terjadi dikotomi dari ilmu pengetahuan itu berdasarkan gejala yang diamati lalu muncullah kelompok peneliti lain yang memungkinkan dikotomi yang lain hingga mencapai gejala yang paling sederhana. Gejala yang sederhana ini adalah gejala yang tidak memiliki kekhususan hal-hal yang individual.
Comte membagi-bagikan segala gejala yang pertama-tama dalam dua hal yaitu gejala yang bersifat organis dan yang tidak bersifat anorganis.Yang dimaksud dengan sifat organis adalah segala hal yang bersifat makhluk hidup.Dan sifat anorganik adalah yang tidak bersifat hidup. Menurutnya dalam mempelajari yang organis harus terlebih dahulu mempelajari hal-hal yang bersifat anorganis, karena dalam makhluk hidup terdapat hal-hal yang kimiawi dan mekanis dari alam yang anorganis, contoh: manusia yang makan, yang mana didalamnya terdapat proses kimiawi dari sesuatu yang anorganis yaitu makanan.
Ajaran tentang segala sesuatu yang anorganis dibagi menjadi dua hal yaitu tentang astronomi, yang mempelajari segala gejala umum yang ada dijagat raya dan tentang fisika serta kimia yang mempelajari segala gejala umum yang terjadi dibumi. Menurutnya, pengetahuan tentang fisika harus didahulukan, sebab proses-proses kimiawi lebih rumit dibanding dengan proses alamiah dan tergantung daripada proses alamiah.[8]
Dan ajarannya tentang yang organis juga dibagi menjadi dua bagian yaitu: proses-proses yang berlangsung dalam individu-individu dan proses-proses yang berlangsung dalam jenisnya yang lebih rumit. Ilmu yang diusahakan disini adalah ilmu biologi, yang menyelidiki proses dalam individu. Kemudian muncul sosiologi yang menyelidiki gejala-gejala dalam hidup kemasyarakatannya dan ilmu sosial baru harus dibentuk atas dasar pengamatan dan pengalaman (pengetahuan positif)
Demikianlah sosiologi yang menurutnya menjadi puncak bangunan ilmu pengetahuan.Akan tetapi ilmu ini baru dapat berkembang jika segala sesuatu telah mencapai kedewasaanya.

3.4 Kedudukan Ilmu Pasti dan Psikolog
Kedudukan ilmu pasti yang mana ilmu pasti bukan sebagai sesuatu yang bersifat empiris, dan bagaimana dengan psikologi yang berarti mempelajari jiwa manusia, diri sendiri ataupun orang lain. Menurut Comte ilmu pasti merupakan dasar dari filsafat karena ia memiliki dalil-dalil yang bersifat umum dan paling abstrak, dalam hal ini ia setuju dengan Descartes dan Newton. Dan menurutnya pula bahwa ilmu pasti adalah ilmu yang paling bebas.
Sedangkan psikologi tidak diberi ruang dalam system Comte. Hal ini sesuai dengan pendapatnya bahwa manusia tidak akan pernah menyelidiki diri sendiri. Tetapi orang masih dapat menyelidiki nafsu-nafsunya karena menurutnya nafsu-nafsu itu terpisah dari manusia.[9]
4.      Konsep Sentral dan Komparasi dari ajaran Positivisme
Konsep sentral dari ajaran positivisme ini lebih pada tahap-tahap pemikiran manusia atau hukum 3 tahap dan masyarakat, karena dengan pemikiran tersebut Auguste Comte juga disebut Bapak dari sosiologi.
Sedang komparasi terhadap ajaran positivisme ini lebih pada pemikiran empirismenya Hegel. Kesamaan antara positivisme dengan empirisme seperti yang timbul di Inggris, keduannya mengutamakan pengalaman. Bahwa ajaran positivisme hanya membatasi diri pada pengalaman-pengalaman yang bersifat obyektif. Namun untuk empirisme hanya menerima pengalaman-pengalaman yang bersifat bathiniah atau pengalaman yang subyektif.Untuk ajaran Comte tentang masyarakat yang mewujudkan suatu filsafat tentang sejarah. Bahwasannya ajaran Comte tentang hukum 3 tahap atau 3 zaman, secara formal sejenis dengan dialetikanya Hegel.Sama seperti Hegel, Comte memeriksa banyak sekali fakta-fakta sejarah serta menggabungkannya menjadi suatu sistem. Kedalam filsafat sejarah itu dimasukkan perkembangan kenegaraan, kehakiman, dan kemasyarakatan, juga perkembangan kesenian, agama, ilmu dan filsafat.[10] Disinilah Comte melebihi Hegel. Di mana-mana ditemukannya hukum 3 tahap. Tiap tahap sesuai dengan suatu bentuk masyarakat tertentu.Umpamanya, pada zaman teologi di bidang social terdapat kepercayaan kepada hukum ilahi, sedang di bidang pemerintahan terdapat bentuk feodalisme.
5.      Kritikan dari Positivisme Auguste Comte
Dalam sejarahnya, positivisme dikritik karena generalisasi yang dilakukannya terhadap segala sesuatu dengan menyatakan bahwa semua ”proses dapat direduksi menjadi peristiwa-peristiwa fisiologis, fisika, atau kimia” dan bahwa ”proses-proses sosial dapat direduksi ke dalam hubungan antar tindakan-tindakan individu” dan bahwa ”organisme biologis dapat direduksi kedalam sistem fisika”.
Untuk pemakalah sendiri ada dua hal yang menjadi landasan atas kritikan dari ajaran Positivisme. Pertama, ketidaktepatan positivisme memahami aksi sosial dan realitas sosial yang digambarkan positivisme terlalu konservatif dan mendukung status quo. Positivisme secara sistematis gagal memahami bahwa apa yang mereka sebut sebagai ”fakta-fakta sosial” tidak benar-benar ada dalam realitas objektif, tapi lebih merupakan produk dari kesadaran manusia yang dimediasi secara sosial. Kritik kedua, menunjuk bahwa positivisme tidak memiliki elemen refleksif yang mendorongnya berkarakter konservatif.Karakter konservatif ini membuatnya populer di lingkaran politik tertentu.








BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Positivisme adalah aliran filsafat yang berpangkal dari fakta yang positif, sesuatu yang diluar fakta atau kenyataan dikesampingkan dalam pembicaraan filsafat dan ilmu pengetahuan. Positivisme bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri.Ia hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme yang bekerjasama. Dengan kata lain, ia menyempurnakan metode ilmiah (scientific method) dengan memasukkan perluanya eksperimen dan ukuran-ukuran. Dengan demikian positivisme sama dengan empirisme plus rasionalisme
Dalam kaitannya tentang sosial, positivisme merupakan doktrin Comte yang menjadi pondasi strategi rekonstruksi masyarakat. Bagi Comte, sosiologi merupakan puncak perkembangan positivisme dan menjadikannya ratu dari ilmu-ilmu sosial. Sehingga, sosiologi positif diharapkan Comte mampu menjadi kunci kemajuan sosial dimasa depan
Ujung dari pencarian kebenaran yang dilakukan oleh Auguste Comte adalah falsafahnya tentang hidup manusia yang membutuhkan hubungan dengan zat yang sempurna, yang diwujudkan dalam bingkai teori sosiologinya.
2.      Saran
Kami menghimbau kepada teman-teman seperjuangan untuk mencari lebih luas lagi tentang Positivisme Auguste Comte yang belum dapat kami bahas pada makalah ini. Demikian yang kami uraikan pada makalah ini, mudah-mudahan dapat memberi manfaat bagi kami dan yang mengkaji makalah ini. Dalam pembuatan makalah ini pasti banyak kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi penyempurnaan pada penulisan karya ilmiah mendatang.



DAFTAR PUTAKA
Harun Hadiwijono, Harun. 1980.  Sari Sejarah Filsafat Barat. (Yogyakarta: Kanisius

Hardiman, Budi. 2007. Filsafat Modern. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)
Abdul Hakim, Atang. 2008. Filsafat Umum, (Bandung: Pustaka Setia)

Bagus, Lorens. 2005. Kamus Filsafat, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Hardiman, Budi. 2003. Melampaui Positivisme dan Modernisme, (Yogyakarta: Kanisius)



[1]Dr. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat, (Yogyakarta: Kanisius, 1980), 110
[2]F. Budi Hardiman, Melampaui Positivisme dan Modernisme, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), 54
[3]Dr. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat, (Yogyakarta: Kanisius, 1980), 110
[4]Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005), 858
[5]Atang Abdul Hakim, Filsafat Umum, (Bandung; Pustaka Setia, 2008) hlm 296.
[6]Ibid., 311
[7]Budi Hardiman, Filsafat Modern, (Jakarta; Gramedia Pustaka Utama, 2007) hlm, 206.
[8]Harun Hadiwijono, sari sejarah filsafat barat , hal: 111-112
[9]Ibid., 112-113
[10]Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta: Kanisius, 1980), hal 113

Tidak ada komentar:

Posting Komentar